Kamis, 13 Mei 2010

KENAKALAN REMAJA DARI PERSPEKTIF ISLAM

Oleh : Ali Hisyam, S. Sos I
Kenakalan remaja (Juvenile Delinquence) adalah merujuk kepada perbuatan dan aktiviti remaja yang berlawanan dengan norma-norma masyarakat, undang-undang negara dan agama, seperti mencuri, merompak, merogol, berzina, membunuh, menagih dadah, mendurhaka kepada kedua ibu bapa dan seumpamanya. Perbuatan remaja dikatakan nakal kerana remaja dianggap belum matang, belum dewasa dan perbuatan yang mereka lakukan tidak dikenakan hukuman berat. Hukuman yang dijatuhkan kepada mereka ialah remaja itu ditempatkan di pusat-pusat pemulihan akhlak dan diberi pendidikan khas.
Ahli-ahli sains sosial berbeda-beda pendapat tentang hukuman umur remaja. Ada yang mengatakan masa remaja di antara 10 – 18 tahun atau 12 tahun – 13 tahun. Menurut Islam, kanak-kanak mula dapat membedakan perkara yang baik dan buruk setelah mencapai mumayyiz yaitu berumur tujuh tahun. Pada ketika inilah ibu bapak atau penjaganya patut melatih anak mengerjakan ibadah yang wajib. Apabila anak mencapai umur baligh, mereka wajib melaksanakan semua perintah agama dan menjauhkan segala larangannya. Lingkungan baligh ialah mencapai umur 15 tahun atau anak lelaki sudah bermimpi bersetubuh dan anak perempuan telah keluar haid dalam umur antara 9 hingga 15 tahun.
TEORI TABIAT MANUSIA
Pakar psikologi konseling membuat berbagai teori untuk menjelaskan pembentukan tabiat manusia. Corey (1986) menyatakan beberapa teori penting yang menjelaskan tentang tabiat itu ialah:
Pertama: Teori Psikoanalisis yang diasaskan oleh Frued. Teori ini menyatakan tabiat manusia pada asalnya jahat karena dipengaruhi oleh unsur-unsur rangsangan seksual, kuasa agresif dan tidak rasional yang wujud dalam diri manusia bagi tujuan menjaga survival perkembangan hidupnya. Unsur-unsur itu bertindak di dalam diri manusia secara membabi buta (tidak sadar). Kombinasi unsur-unsur itu dan konflik hidup semasa kecil yang tidak dapat diselesaikan pada masa itu akan menjadi puncak dan penentu tabiat anak pada masa depan.
Kedua: Teori Analisis Transaksi: Teori ini menerangkan tabiat manusia terbentuk hasil daripada skrip hidup yang ditentukan oleh ibu bapak. Semasa kecil anak akan merekam secara langsung apa saja percakapan dan perbuatan yang ditayangkan oleh ibu bapak kepada mereka. Konflik akan berlaku apabila anak itu mencoba menilai semula skrip hidup yang lama atau menerbitkan skrip hidup yang baru hasil daripada perkembangan emosi fikirannya dan pengaruh lingkungan.
Ketiga: Teori Behaviorisma: Menurut teori ini tabiat dan tingkah laku manusia terbentuk hasil daripada proses pembelajaran dan evolusi lingkungan. Tabiat manusia menjadi masalah apabila mereka menerima pembelajaran dan lingkungan yang salah, walaupun mereka sendiri yang mencipta sistem pembelajaran atau membentuk lingkungan.
Keempat: Teori Pemusatan Klien: Teori ini membuat perkiraan bahwa tabiat manusia semula jadinya baik, rasional, bertanggungjawab dan berusaha mencapai kesempurnaan diri. Walau bagaimanapun manusia juga cenderung menjadi kecewa dan bermasalah apabila keperluan mencapai kesempurnaan diri dihalang seperti gagal mendapat kasih sayang, keselamatan dan lain sebagainya.
Kita ketahui bahwa pandangan teori konseling barat tentang tabiat manusia adalah sebagian dari pandangan Islam. Mereka mengkaji tabiat manusia dari aspek luarnya saja dengan merujuk kepada factor lingkungan, proses pembagian, kemahiran ibu dan bapak dan keperluan jasmani. Keadaan ini berlaku karena mereka tidak dibimbing oleh al-Quran, dan kajian itu dibuat berdasarkan latarbelakang kehidupan masyarakat di barat.
Sebagai contoh, walaupun pendapat Frued dikritik hebat tentang tabiat manusia, tetapi teorinya adalah berkaitan dengan perasaan nafsu Ammarah yang mewakili unsur kehewanan atau keperluan jasmani manusia.
Dari segi pendekatan Islam, Muhammad al-Jiasi (1976) menyatakan: terdapat empat peringkat nafsu yang mempengaruhi tabiat manusia yaitu:

a. Nafsu Ammarah: Nafsu yang sentiasa mendorong manusia melakukan kejahatan. Bagi mereka yang berada diperingkat ini tidak merasakan perbedaan antara yang baik dan jahat. Apabila seseorang itu melakukan kejahatan, ia tidak menyesal dan sebaliknya, juga apabila melakukan kebaikan, ia tidak gembira.
b. Nafsu Lawwamah: Nafsu yang mula menunjukkan kelemahan diri, menilai tabiat masa lampau dan bersedia keluar untuk memulai kehidupan yang positif.
c. Nafsu Mulhamah: Nafsu yang sudah menerima kebenaran dan keinsafan serta merasa senang membuat kebaikan dan benci kepada kejahatan.
d. Nafsu Mutmainnah: Nafsu yang mencapai kedamaian dan kebahagiaan. Nafsu ini berusaha terus untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan dalam dirinya.
Pada prinsipnya nafsu itu adalah mewakili dua keperluan naluri manusia yaitu naluri kehewanan (jasmani) dan rohani (wahyu). Kadang kala ada pertarungan sengit antara dua naluri itu untuk mempengaruhi hati manusia.
Seorang ahli falsafah akhlak Islam, Ibnu Maskawaih menyatakan pertemuang nafsu dalam diri manusia menghasilkan tiga peringkat tabiat manusia.
a. Manusia yang baik tabiatnya. Manusia yang baik tabiatnya tidak akan berubah menjadi manusia yang jahat;
b. Manusia yang jahat tabiatnya. Manusia dalam kategori ini tidak akan menjadi baik kerana memang pembawaannya sudah jahat.
c. Manusia yang berada dipertengahan tabiatnya. Golongan ini boleh berubah menjadi baik atau jahat bergantung kepada pendidikan dan lingkungan yang diterimanya.
Konsep Diri Remaja
Kadangkala orang mengambil sikap lepas tangan dan membiarkan anak mereka melintasi alam remaja berjalan begitu saja tanpa mau tahu pergolakan yang dihadapi oleh anak mereka. Orang tua perlu mengetahui bahwa masa remaja ialah masa peralihan zaman dari alam anak-anak menuju alam dewasa. Pada masa ini anak-anak tidak lagi dianggap anak-anak dan tidak juga orang dewasa.
Peralihan zaman alam anak-anak menuju alam dewasa adalah suatu masa yang penting kepada remaja karena pada masa ini mereka akan menentukan konsep dirinya atau siapakah diri aku atau suatu proses menentukan konsep jati diri pada dirinya. Rogers (1985) menyatakan antara perubahan nyata yang ada pada akhir masa remaja ialah:
a. Perubahan pada fisikal ; Bagi anak lelaki didapati mengalami perubahan jelas pada jasmani di mana anggota badan kelihatan mula gempal dan tegap. sedangkan pada gadis mulai menampakkan sifat-sifat kewanitaannya seperti datang haid, buah dada membesar, pinggang mula ramping dan punggung melebar. Apabila sampai pada peringkat akhir remaja simbol-simbol daya tarikan seks mulai kelihatan dan diiringi juga rangsangan seksual yang mula meningkat.
b. Perubahan Emosi dan Fikiran ; Pada remaja, perasaan dan fikiran anak lelaki lebih stabil karena mereka tidak lagi anak-anak. Pada zaman anak-anak skrip hidup hariannya ditentukan oleh orang tua dan kita jumpai perbuatan mereka dibuat secara spontan tanpa dipengaruhi oleh fikiran dan emosi. Apabila anak melangkah ke alam remaja, ia mula pandai berfikir, menilai perasaan, mengkaji skrip hidup orang tua, mencoba sesuatu yang baru dan berkhayal tentang keindahan dunia kehidupan orang dewasa yang sukar dicapai baginya. Perubahan emosi dan fikiran ini menimbulkan kegelisahan pada remaja karena untuk berdikari mereka tidak mampu dan untuk mengikuti jejak langkah orang dewasa juga tidak mampu. Keadaan ini menimbulkan konflik nilai dalam dirinya. Mereka mengalami rasa gembira dan kadangkala kesepian, berkahayal dengan orang yang dikaguminya, dan cenderung mencontohkan dalam berbagai hal, seperti cara berpakaian, cara bergaul dan cara berfikir. Orang yang dikagumi yang akan dicontohi kemungkinan terdiri dari penyanyi populer, artis populer, pelawak, tokoh ulama, tokoh politik, dan sebagainya. Ini bergantung kepada pengajaran yang diterima oleh remaja itu.
c. Narcisma; Narcisma adalah merujuk kepada mencintai dan ingin dicintai untuk mendapatkan kasih sayang pada diri sendiri. Pada masa anak-anak, perasaan cinta dan dicintai di tujukan kepada orang tua atau keluarga. Apabila anak itu mencapai remaja, perasaan narcisma ini memuncak karena remaja mengalami rasa kesepian (Emotional Vacumm) yang hebat daripada peralihan masa untuk mandiri dan memperluaskan teman sosial yang sesuai.
Narcisma amat kuat bentuknya pada gadis remaja karena perempuan dari segi biologinya bersifat pasti di mana ia memerlukan seseorang untuk membantu dan membimbingnya keluar dari rasa kesepian itu. Berdasarkan faktor inilah kita dapati aktivitas bercinta dan faktor tukar pasangan di kalangan remaja adalah lumrah, tetapi gadis remaja lebih dulu terlibat dengan aktivitas bercinta berbanding dengan remaja lelaki yang sebaya dengan umurnya.
Jika narcisma ini digunakan secara positif maka remaja akan menentukan dirinya tidak mudah dieksploitasi oleh orang lain. Sekiranya narcisma di salah gunakan karena remaja mempunyai konsep diri yang salah atau kelalaian orang tua memberi kasih sayang maka remaja akan memburu narcisma di luar untuk memenuhi rasa kesepian seperti menghisap ganja, mengikut geng, berpesta pora, berzina, cinta teman sejenis dan lainnya.
Dalam aktivitas narcisma ini perempuan lebih mudah menjadi mangsa dengan bujukan dan rayuan lelaki kerana ia bersifat pasif.
d. Menyertai Kumpulan
Perubahan emosi dan fikiran remaja telah mendorongkan remaja memperluaskan dan memperbesarkan teman sosialnya. Mereka memperluaskan teman sosial ini dengan cara menyertai kumpulan tertentu atau membentuk kumpulan baru berdasarkan umur sebaya, hobi yang sama, prinsip hidup yang sama atau taraf sosial yang sama.
Adalah perkara biasa kita lihat kelompok remaja mempunyai identitas tertentu seperti menggunakan bahasa yang aneh, pakaian yang unik, tertarik dengan aktivitas yang menantang dan sebagainya. Penyertaan remaja dalam kelompok sama ada kelompok kecil atau besar adalah tanda perubahan yang sehat dalam pertumbuhan mentalnya. Walau bagaimanapun, jika penyertaan dalam kelompok itu disalahgunakan, maka ia akan menyeret remaja dalam aktivitas yang bertentangan dengan agama dan undang-undang.
Pada masa remaja inilah kita dapati orang tua sering mempunyai pendapat yang berbeda dengan pandangan teman sebaya dalam usaha memberi bimbingan dan pendidikan terhadap anak remaja itu.
e. Menentang Kekuasaan
Orang tua kita selalu mengingatkan bahwa masa remaja adalah masa pancaroba karena remaja sedang mencari jalan untuk mandiri dan bebas dari kongkongan orang tua. Biasanya remaja merasa bahwa kuasa yang ada pada orang tua, guru-guru dan orang dewasa terlalu kuat yang boleh menghalangi pencapaian cita-cita mereka. Perbedaan besar pendapat dan gaya hidup remaja dengan orang tua, orang dewasa dan guru akan mencetuskan permusuhan karena remaja menganggap bantahan itu merendahkan harga diri mereka yang memang telah sedang bergelora. Oleh karena itu apabila ada perselisihan, remaja akan mencari teman sebaya mereka atau mereka bertindak nekad melakukan kejahatan untuk membuktikan kepada orang tua atau orang yang lebih tua bahwa mereka bisa mandiri atau mampu melakukan apa yang orang dewasa lakukan.
Sebenarnya pencarian konsep diri telah dimulai sejak anak masih kecil, tetapi pada masa remaja mulai kelihatan menonjol karena remaja mula pandai belajar berfikir dan menggunakan emosinya hasil daripada interaksi dengan dunia luar, yaitu ibu bapak, teman sebaya dan lingkungan. Masa remaja sendiri penting bagi perkembangan konsep diri karena pada masa inilah remaja mengalami proses pemurnian dan sekaligus mengalami perubahan. Bagi kebanyakan remaja, proses pemurnian konsep diri berjalan lancar, tetapi mereka yang jauh menyimpang dari pemurnian itu, pertumbuhan hidupnya akan menghadapi masalah, yaitu manusia yang kotor pribadinya.
Faktor Kenakalan
Berdasarkan pandangan Islam dan ditunjang teori psikologi konseling barat, puncak kenakalan remaja bisa dibagi menjadi empat faktor:
Pertama : Faktor keluarga
Akhlak anak bermula di rumah. Anak sejak kecil dan sebagian besar masanya berada dalam lingkungan keluarga. Ini menunjukkan perkembangan mental, fisikal dan sosial adalah di bawah kawalan ibu bapak atau tunduk kepada peraturan hidup yang berlaku dalam sebuah rumah tangga. Oleh karena itu jika anak remaja menjadi nakal atau liar maka kemungkinan besar puncaknya adalah berasal dari pembawaan keluarga itu sendiri. Isu pembawaan keluarga itu ialah;
a. Status ekonomi orang tua yang rendah dan lemah, di mana anak tumbuh besar dalam keadaan terbiar.
b. Kehidupan orang tua yang bergelimang dengan maksiat.
c. Orang tua lebih mementingkan pekerjaan daripada menjaga kebaikan keluarga.
d. Rumah tangga yang tidak kokoh atau bercerai berai.
e. Syiar Islam tidak kokoh dalam rumah tangga.
Kedua : Faktor Peribadi Yang Kotor.
Pribadi yang jelek adalah merujuk kepada seseorang yang rusak akhlaknya atau mempunyai sifat-sifat yang keji (mazmumah) seperti pemarah, tamak, dengki, pendendam, sombong, tidak amanah dan sebagainya. Keadaan ini berlaku karena individu itu telah dikuasai oleh naluri agresif dan tidak rasional yang mewakili nafsu kehewanan, hasil daripada pendendam dan pengalaman yang diterima sejak kecil. Pribadi yang kotor mungkin telah dimulai sejak kecil dan kemudian diperkuat lagi bila anak itu melewati masa remaja. Dengan lain perkataan pribadi fitrah anak telah tercetak dan menjurus kepada pribadi yang kotor.
Ketiga : Faktor sekolah.
Sekolah merupakan tempat memberi pengajaran dan pendidikan kedua kepada anak setelah orang tua. Faktor sekolah yang bisa mempengaruhi anak ialah:
a. Disiplin sekolah yang longgar.
b. Orang tua tidak mau tahu kemajuan dan prestasi anak di sekolah.
c. Guru tidak mau tahu masalah yang dihadapi oleh siswanya.
Keempat : Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan adalah merujuk kepada peranan masyarakat, multi-media dan pusat-pusat hiburan yang menyediakan berbagai produk yang bisa menggalakkan dan meningkatkan rangsangan seksual.
Aktivitas faktor lingkungan yang bisa merusak akhlak manusia ialah:
a. Pertunjukan konsert rock
b. Pusat-pusat video game
c. Pengangguran
d. Pergaulan bebas lelaki dan perempuan
e. Penyiaran gambar lucu
f. Pertumbuhan pusat-pusat hiburan yang berunsur seks
g. Aktivitas simbol seks seperti pertandingan ratu cantik dan pertunjukan fashion wanita.
Rawatan Kenakalan
Persoalan yang timbul kepada orang tua atau pihak pemerintah ialah apakah kaidah terbaik yang digunakan dalam Islam dalam mengatasi kenakalan di kalangan remaja. Dalam Islam kita dapati bahwa Allah telah menurunkan dua puluh lima Rasul bertujuan membimbing dan membantu manusia supaya hidup mengikut fitrah. Wawasan agama Islam diturunkan adalah untuk membentuk akhlak manusia sebagai usaha meneruskan kesinambungan fitrah keadaan manusia. Akhlak mulia adalah perasaan semula jadi manusia (fitrah). Allah telah berfirman:
“Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaiknya.” (Surah Al-Tiin:4)
Ketika menjelaskan perkara yang sama Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Setiap anak yang dilahirkan adalah putih bersih, maka kembali kepada kedua ibu bapaknya untuk meyahudikannya atau menasranikannya atau memajusikannya.” (Riwayat Bukhari)

Sejarah Rasulullah s.a.w. membebaskan penduduk arab Jahiliyah daripada kongkongan dan belenggu nafsu kehewanan memberi satu pengajaran penting tentang pembentukan akhlak manusia. Antara kaedah yang digunakan oleh Rasulullah s.a.w. adalah program bina insan dan kemahiran orang tua. Kaedah bina insan ini meliputi:
PERTAMA: Kaedah Pendidikan Hati
Sebagaimana kita ketahui bahwa dalam diri manusia terdapat dua naluri yang berlainan sifatnya yang selalu bersaing untuk mempengaruhi tabiat manusia. Dua naluri itu bersaing untuk menunjuk dan mempengaruhi hati. Imam Ghazali menyatakan, hati dalam tubuh manusia diibaratkan sebagai Maharaja yang mengarahkan dan mengawal tabiat manusia. Manakala Frued dalam teori konselingnya menyatakan “hati dalam diri menusia dikenali sebagai ‘Super ego’”. Dia menjadi perantaraan seolah-olah ‘jalan Sutra’ (Silk road) yang bertindak sebagai pembuat keputusan tabiat manusia baik atau buruk, betul atau salah.
Penemuan Frued itu adalah menyokong pendapat yang telah lama dikemukakan oleh Islam. Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Sesungguhnya dalam jasad manusia itu terdapat segumpal daging apabila baik ia, maka baiklah seluruh badan. Jika rusak ia maka rusaklah seluruh badan. Itulah hati.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Hati itu sesuatu yang ada di dalam dada yang berbentuk zat (bukan material). Ia harus diisi dengan sesuatu. Bila Allah mengisinya, maka orang itu menjadi baik. Jika syaitan mengisinya, orang itu menjadi jahat. Oleh karena itu apabila kita berzikir berarti hati kita diisi dengan Allah, sentiasa bersama Allah dan tidak memberi tempat langsung kepada syaitan mempengaruhinya. Allah berfirman:
“Dan siapa yang tidak mengindahkan pengajaran (Al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah) Yang Maha Pemurah, Kami akan adakan baginya syaitan (yang menghasut dan menyesatkannya) lalu menjadilah syaitan itu temannya yang tidak renggang daripadanya” (Surah Al-Zukhruf:36)
Ternyata bahwa pendidikan hati secara berzikir sepanjang masa adalah kaidah berkesan untuk membersihkan hati hati supaya bebas dari gangguan syaitan. Allah telah memberi jaminan bagi orang yang bersih hatinya
Zikir-zikir yang paling baik diamalkan ialah lafaz:
a. Subhanallah
b. Alhamdulillah
c. Allahuakhbar
d. Lailahaillallah
e. Walahaulawalaquwatailla billahilaliyuladzim
Dalam Islam. Lima zikir ini dikenali sebagai “Albaqiyyatussholihat’ dimana amalannya bisa memberi pahala di akhirat. Pembersihan hati amat penting kepada manusia untuk membentuk keinsafan dan kesadaran diri supaya berlaku jujur, membuat baik kepada dua orang tua, memelihara kesucian diri, kasih sayang dan mendekati kepada aktivitas terpuji yang lain.
KEDUA: Kaedah Menghayati Ibadat Khusus
Ibadah khusus seperti sembahyang, puasa, zakat dan haji yang difardhukan kepada umat Islam bertujuan melatih dan membentuk manusia supaya kekal dalam kaedah fitrah. Diantara ibadah khusus ini, sembahyang merupakan ibadah yang terpenting dalam pembentukan akhlak manusia. Allah berfirman:
“Sesungguhnya sembahyang itu boleh mencegah seseorang dari melakukan perbuatan yang keji dan mungkar.” (Surah Al-Ankabut:45)



Dalam ayat yang lain, Allah berfirman:
“Sesungguhnya berjayalah orang yang beriman yaitu mereka yang khusyu’ dalam sembahyang.” (Surah Al-Mu’minun:1-2)
Ibadah sembahyang dianggap senjata terpenting dalam pembentukan akhlak manusia berdasarkan keterangan berikut:
a. Rasulullah s.a.w. menerima sendiri perintah sembahyang fardhu ketika menghadap Allah pada waktu Israk-Mikraj. Ibadah lain hanya diterima melalui perantaraan Malaikat Jibril;
b. Rasulullah s.a.w. mensifatkan sembahyang adalah tiang agama. Apabila seseorang tidak menunaikan sembahyang bererti orang lain tidak dapat membedakan seseorang itu Islam atau kafir. Keadaan ini memberi ruang kepadanya melakukan perbuatan keji.
c. Rasulullah s.a.w. telah berpesan bimbinglah akhlak anak sejak kecil dengan cara membantu dan melatih anak bersembahyang bila ia berumur tujuh tahun. Oleh itu apabila anak mencapai umur 10 tahun dan masih kelihatan enggan untuk mendirikan sembahyang maka pukullah anak itu dengan tidak mencederakannya atau membahayakannya.
d. Sembahyang adalah sebagian dari pada zikir. Berdasarkan faktor inilah ibadah sembahyang difardhukan disepanjang masa baik dalam keadaan sehat atau sakit.
KETIGA: Kaedah Qiyamullail
Qiyamullail adalah merujuk kepada amalan ibadah yang dibuat di sepanjang malam atau separuh malam dengan mengerjakan ibadah tertentu seperti sembahyang sunat, berzikir, bertahlil, membaca al-Quran dan beristighfar. Ibadah ini merupakan amalan sunat bagi individu yang mampu melaksanakannya. Program Qiyamullail amat berkesan ke arah peningkatan ketaqwaan seseorang. Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Kerjakanlah solat malam, sebab itu adalah kebiasaan orang-orang soleh dahulu sebelum daripada kamu, juga satu jalan untuk mendekatkan dirimu kepada Tuhan-mu, juga sebagai penebus keburukan-keburukanmu, pencegah dosa serta dapat menghalaukan penyakit dari badan.” (Riwayat Al-Tirmizi)
Melalui penjelasan di atas menunjukkan program bina insan amat penting kepada anak-anak dan orang tua sendiri untuk menjamin kesinambungan fitrah. Sebenarnya manusia telah membuat perjanjian dengan Allah untuk taat kepada-NYA adalah sama seperti binatang yang buruk (hidup melata) di atas muka bumi. Allah berfirman: “Bukankah Aku Tuhan kamu” Roh-roh manusia menjawab: “Benar,(Engkau Tuhan kami) kami menjadi saksi.” (Surah Al-A’raf:172)
Kesan dialog perjanjian ini ialah manusia wajib mentaati dan beribadah kepada Allah, karena itulah cara untuk meletakkan taraf manusia di sisi Allah yaitu sebagai khalifah Allah. Allah mensifatkan manusia tidak beriman atau tidak mau beribadah kepada Allah adalah sama seperti binatang yang buruk (hidup melata) di atas muka bumi, Allah berfirman:
“Sesungguhnya sejahat (Makhluk) yang melata di sisi (hukum dan ketetapan) Allah ialah orang-orang yang kafir (yang tetap dengan kekufurannya) sebab itu mereka tidak (mau) beriman.” (Surah Al- Anfaal: 55)
Kemampuan orang tua
Al-Quran dan Hadis telah memberi garis panduan umum berhubung dengan kemampuan orang tua dalam pendidikan anak. Orang tua adalah pemimpin dalam rumah tangga. Sebagai pemimpin dalam rumah tangga, mereka perlu mengetahui dan menguasai kemampuan tertentu. Kemampuan orang tua yang digariskan oleh Islam ialah:
a. Orang tua hendaklah berlaku adil, menjaga kebajikan dan suka memaafkan ahli keluarganya.(Surah Al-Nahl:90)
b. Bersikap lemah lembut dan memberi pertolongan dan bimbingan. Kalau kekerasan digunakan, maka orang akan menjauhkan diri daripada kita.(Surah Ali’-imran:159)
c. Orang tua jangan menjadi kecewa dengan sikap anaknya dan anak pula jangan menjadi sengsara karena perbuatan orang tuanya.(Surah Al-Baqarah:233)
d. Rasulullah s.a.w. bersabda: “Seorang mukmin yang paling sempurna imannya ialah mereka yang berakhlak mulia dan berlemah lembut dengan ahli keluarganya.(Riwayat Al-Tirmizi dan Al-Hakim)
Berdasarkan pandangan Islam dan pendapat ahli psikologi konseling barat, kemampuan orang tua yang perlu dikuasai ialah:
a. Model Orang tua Yang Salih
Orang tua yang salih adalah merujuk kepada Orang tua yang taat menghayati ajaran Islam. Orang tua yang salih adalah model terbaik untuk memberi pendidikan agama kepada anak-anak. Zakiah Darajat (1983) menyatakan: ‘yang dimaksudkan dengan pendidikan agama bukanlah pendidikan agama yang diberi oleh guru-guru di sekolah saja, yang penting adalah penanaman jiwa agama yang dimulai dari rumah tangga, semenjak anak masih kecil dengan cara membiasakan anak dengan tingkah laku dan aktivitas yang baik. Walau bagaimanapun, amat disayangkan terdapat Orang tua yang tidak mengerti ajaran agama yang dianutinya, bahkan banyak pula yang memandang rendah ajaran agama itu malah ajaran agama tidak dilaksanakan langsung. Apabila tidak mengenali ajaran agama, maka lemahlah hati nuraninya. Jika hati nuraninya lemah, kontrol hatinya juga lemah.’
Orang tua yang salih adalah Orang tua yang cemerlang. Maka Orang tua perlu mengambil daya usaha untuk mengadakan secara sendirian program bina insan dari waktu kewaktu dalam rumah tangga. Adalah menjadi perkara yang rumit apabila anak telah menjadi jahat tabiatnya barulah Orang tua sibuk ke sana ke mari untuk mencari jalan keluar. Untuk menjauhi anak menjadi jahat tabiatnya maka Orang tua hendaklah membiasakan dan melatihkan anak mengamalkan sifat-sifat terpuji seperti tolong menolong, jujur, menghormati orang tua, kasih sayang, malu, berbuat kebajikan dan sebagainya.

b. Mendisiplinkan Anak Dengan Kasih Sayang
Disiplin adalah merujuk kepada kaidah untuk melatih dan mempastikan anak mematuhi peraturan tertentu. Disiplin bukanlah bermakna menggunakan kekerasan. Satu kesalahan besar Orang tua yang mendisiplinkan anak dengan memakai cacian, kutukan dan kekerasan karena perbuatan itu dianggap menghukum anak secara mental, fisikal dan akan merendahkan harga diri anak. Cara paling baik mendisiplinkan anak ialah dengan kasih sayang. Orang tua perlu secara tegas memberitahu anak bahwa Orang tua lebih merasa senang, gembira, ceria dan sukacita jika anak melakukan sesuatu perkara positif. Anak juga perlu dilatih berbuat kebajikan, dan pada waktu yang sama ganjaran atau pujian perlu diberi bila anak membuat kebaikan sebagai usaha memperkukuhkan tingkah laku positif.
c. Terima Anak Tanpa Syarat
Walau si anak jahat sekalipun, Orang tua wajib memberi bimbingan dan menjaga kebajikannya. Ada Orang tua yang mengusir anak, tidak mengaku anak atau mencelakakannya apabila anak itu melakukan kejahatan. Tindakan Orang tua ini adalah bertentangan dengan Islam karena hubungan nasab antara Orang tua dengan anak masih ada. Kesediaan anak pulang menemui Orang tua membimbingnya ke arah jalan yang benar. Orang tua yang cemerlang adalah Orang tua yang memberikan sendiri konseling terhadap anak yang bermasalah. Langkah konseling itu bisa dengan cara:
i Wujudkan suasana akrab dan mesra supaya anak tidak merasa takut untuk mengungkapkan perasaan kepada Orang tua
ii Minta si anak memberi penjelasan tentang latar belakang masalah yang terjadi
iii Mendengar dengan penuh perhatian penjelasan anak dan sekali-sekali bertanya untuk mendapatkan gambaran dan mengenal pasti masalah yang dihadapi oleh anak;
iv Meminta anak memberi pendapat sendiri bagaimana cara untuk mengatasi masalah itu dan kesiapan yang ia mampu untuk melaksanakannya; dan
v Jika didapati anak telah kehabisan cara atau menyesal atas kesalahannya, Orang tua bisa meminta anak berjanji tidak melakukan lagi perbuatan yang tidak baik itu.
d. Mempunyai waktu Bersama Anak
Kesibukan terhadap pekerjaan sehingga mengabaikan kebaikan sosial keluarga adalah bertentangan dengan ajaran Islam. Orang tua apabila sudah tua memerlukan pertolongan kebaikan anak dan dibalik itu juga anak ketika masih kecil amat memerlukan perhatian dan kasih sayang Orang tua. Keinginan anak untuk berbincang-bincang, bermesra dan bermain bersama dengan Orang tua seolah-olah anak menghulurkan tangan untuk meraih kasih sayang. Apa yang penting ialah kualitas waktu yang diperlukan. Kesempatan terbaik bagi Orang tua untuk memenuhi masa senggang bersama anak ialah sembahyang berjemaah, makan bersama, membaca al-Qur’an bersama, dan sebagainya. Hubungan akrab Orang tua dan anak akan memudahkan anak taat perintah Orang tua, karena telah terbentuk perasaan saling hormat antara satu sama lain.
e. Peka terhadap Pergerakan Anak
Orang tua perlu bijak membaca setiap pergerakan anak. Simbol atau isyarat tertentu bisa memberi gambaran tahap perkembangan anak. Tingkah laku anak yang perlu diperhatikan oleh Orang tua ialah:
i Teman sebaya anak dan aktivitasnya
ii Fesyen pakaian, rambut, dan keadaan fisiknya
iii Tingkah laku non-verbalnya seperti keceriaan, kesedihan, pendiam dan sebagainya
iv Kemampuan anak membedakan perbuatan yang baik dan buruk
v Siapakah yang lebih berpengaruh antara Orang tua atau teman sebaya terhadap dirinya; dan
vi Keupayaannya untuk berdikari.
Kemampuan ini amat penting untuk Orang tua kuasai supaya tingkah laku mereka tidak menjadi tabiat jahat.
f. Jangan Salah memberikan Hak
Dalam proses pertumbuhan dan pembesaran, anak memerlukan rasa selamat, aman dan rasa di terima dalam keluarga.
Dalam pergaulan sehari-hari, kadang kala timbul pertengkaran diantara orang tua dengan anak karena masing-masing mencoba mempertahankan diri atau mencari siapa yang menang. Dalam hal ini Orang tua perlulah menggunakan hak untuk mencari kemenangan, karena ia bersifat lebih positif dan menambahkan lagi penghormatan anak terhadap Orang tua. Orang tua hendaklah berbinara dan memberi alasan-alasan yang seimbang secara baik mengapa Orang tua menolak sesuatu permintaan anak. Penyalahgunaan hak Orang tua terhadap anak menyebabkan anak membuat tanggapan bahwa kehadirannya dalam keluarga adalah tidak dikehendaki dan tidak berguna.
g. Kesabaran
Satu lagi kemampuan yang perlu ada bagi Orang tua ialah bersabar. Tiap-tiap anak walaupun dalam satu keluarga, mempunyai personaliti yang unik dan berbeda-beda. Orang tua tidak boleh menasehati dengan mencaci, memarahi dan mengutuk anak karena anak tidak dapat membaca dan memahami kehendak Orang tua. Dalam Islam, kesabaran adalah salah satu tanda beriman.
Kesalahan Memberi bimbingan Dan Kaunseling
Abu Said al-Khudri meriwayatkan satu kisah yang diberitahu oleh Rasulullah s.a.w. kepadanya. Diriwayatkan pada zaman dahulu kala terdapat seorang yang paling banyak dosanya kerana telah membunuh seramai 99 orang. Dia mau bertaubat dan mencari seseorang yang bisa menerangkan hukum bolehkah dia bertaubat. Dia telah menemui seorang pendeta dan bertanya bahwa dia sudah membunuh manusia seramai 99 orang, bolehkah ia bertaubat?. Pendeta itu lantas menjawab ‘tidak boleh’. Maka pendeta itu dibunuhnya menjadikan mangsanya sebanyak 100 orang. Kemudian dia mencari lagi orang yang paling alim dan ditunjukkan orang alim itu ia sudah membunuh 100 orang, maka masih bisakah ia bertaubat. Orang alim itu menasihatinya “pindahlah kamu ke kampung itu karena penduduknya menyembah Allah dan kamu sembahlah Allah bersama mereka dan jangan kamu kembali lagi ke kampung kamu karena penduduknya jahat.”
Maka berangkatlah orang itu ke kampong itu. Dipertengahan jalan dia meninggal dunia. Maka bertengkarlah dua Malaikat yaitu Malaikat Rahman dam Malaikat Azab.apakah termasuk orang baik atau jahat. Malaikat Rahman menyatakan si mati sudah bertaubat, manakala Malaikat Azab pula berkata si mati tidak ada amal kebajikan. Kemudian turun malaikat lain untuk menjadi orang tengah dengan cara mengukur jarak jauh kampung asalnya dengan kampung itu. Keputusannya didapati orang itu mati lebih dekat dengan kampung itu. Maka ia dimasukkan sebagai seorang ahli Syurga.
Pesan penting dalam kisah ini ialah:
a. Kesalahan memberi bimbingan akan mempengaruhi perasaan seseorang sehingga pendeta dibunuh karena gagal menghilangkan gelojak emosinya atau perasaan marahnya;
b. Bergaul atau tinggal di kawasan orang-orang beriman cara yang baik untuk memperbaiki akhlak; dan
c. Taubat orang tersebut diterima Allah.
Hidayah Allah
Hidayah Allah adalah juga faktor penting mempengaruhi pemulihan dan kemurnian akhlak seseorang. Nabi Nuh a.s. tidak bisa membujuk isteri dan anaknya memeluk Islam. Begitu juga Rasulullah s.a.w. tidak membujuk pamannya Abu Talib kembali ke pangkuan Islam. Allah berfirman:
“Sesungguhnya engkau (Wahai Muhammad) tidak berkuasa memberi hidayah petunjuk kepada siapa yang engkau kasihi (supaya ia menerima Islam) tetapi Allah jualah yang berkuasa memberi hidayah petunjuk kepada siapa yang dikehendakinya, dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat hidayah petunjuk.” (Surah Al-Qasas: 56)
Walau bagaimanapun kita lihat Saidina Umar berjaya memeluk Islam apabila mendengar ayat-ayat al-Qur’an, walhal Umar sebelumnya terkenal dengan perangai jahiliyahnya.
Manusia adalah sebaik-baik kejadian, berakal, selalu berfikir, menyelidik dan menetukan keputusan pemikiran baik, maka baiklah perbuatannya. Tetapi bila jalan pemikirannya salah, maka akan salahlah perbuatannya. Orang yang baik dan benar jalan pemikirannya maka orang itu dikatakan mendapat hidayat dari Allah. Maka apabila salah jalan pemikirannya hingga melakukan kejahatan maka ia tidak mendapat petunjuk Allah. Oleh karena itu Orang tua hendaklah selalu berdoa kepada Allah untuk mendapatkan petunjuk Allah selain mengamalkan perintah Allah yang lain.

Penutup
Mendidik dan membimbing anak bukanlah perkara mudah. Orang tua hendaklah terus menerus tanpa berputus asa dalam membentuk akhlak anak. Langkah penting bagi Orang tua dalam meneruskan kesinambungan fitrah akhlak anak ialah memberi pendidikan agama dimulai sejak kecil. Langkah ini bisa menjamin supaya penerusan akhlak fitrah tidak hilang apabila ia telah menempuh masa remaja. Walaupun terdapat sedikit kelemahan tetapi dengan adanya pendidikan agama yang kukuh, maka anak itu mampu menepis naluri kehewanan yang mencoba mempengaruhinya atau sekurang-kurangnya boleh menjauhi anak dari menjadi jahat tabiatnya. Oleh karena itu perlu kembali kepada tradisi asal dalam membentuk pribadi anak seperti yang diamalkan oleh Rasul-rasul, Nabi-nabi dan para Wali di mana mementingkan pendidikan agama sebagai penerus kesinambungan fitrah kejadian manusia. Orang tua tidak boleh menyalahkan pemerintah, masyarakat dan sekolah semata-mata sebagai cara membela diri apabila anak menjadi jahat tabiatnya. Orang tua perlu menyalahkan diri sendiri karena ini adalah langkah positif untuk menilai peranannya bagaimana agar dapat menjadi menjadi Orang tua yang cemerlang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar